Horizontis

Penulis Lakonlayar & Pengarah: Rozinor Razali

Sinopsis:

Sekian kali matahari terbit menyampaikan pesanan kepada kami untuk mula berjalan, berlari, beribadah dan melakukan kerja kerja yang mendatangkan manfaat kepada keluarga dan sekian manusia di bumi…

Seorang Ayah melihat anaknya sedang duduk termenung di gigi kali merenung jauh horizon yang di selimuti permaidani dari hasil bumi tanpa menoleh dan menyedari dirinya sedang diamati oleh sesusuk tubuh tua yang segak berdiri di hujani terik mentari dan sesekali terpancar sinaran berkilau dari pora pora tubuhnya yang memancarkan silau.

Ayah melangkah perlahan menyusur denai mengarah ke anaknya yang sedang sendiri.

Apa yang kau menungkan tu Teguh? tegur si Ayah

Si Anak tersedar dari lamunannya dan menoleh menatap Ayah yang berdiri tersenyum mengelengkan kepala memandang horizon permaidani yang diusahakan selama ini.

Teguh diam sambil menongkat diri dan bangun memimpin Ayah tua duduk di gigi kali.

Ayah tahu apa yang kau lihat tu Teguh. bicara si Ayah.

Ayah menyendengkan tubuhnya ke kanan dan menyeluk saku dan mengeluarkan sekeping kertas bermaruah. Teguh memerhati bisu.

Cuba kau beritahu aku berapa nilai kertas ini, Teguh. soal si Ayah.

50 ribu rupiah, jawab Teguh.

Teguh mengerutkan sedikit mukanya melihat Ayahnya bertanyakan soalan itu kepadanya. Kemudian di lihat ayahnya mula merenyuk renyuk duit didalam genggaman buku limanya yang jelas kelihatan urat urat melingkar dipermukaan.

Sekarang ini berapakan nilai kertas ini Teguh? tanya si Ayah kembali.

masih 50 ribu rupiah, tegas Teguh.

Teguh membetulkan duduknya dan mula resah dengan pertanyaan ayahnya, namun dia tahu ayah sedang mengajarnya sesuatu. Kali ini Teguh terkejut melihat ayahnya melontar kertas bermaruah itu tadi ke tanah dan mula berdiri dan memijak mijak kertas tu tadi hingga jelas dicemari kekotoran tanah.

Sekarang ini berapakan nilai kertas ini Teguh? tanya si Ayah tegas.

masih 50 ribu rupiah, tegas Teguh.

Kalau kau pasti kertas ini tetap sama nilainya Teguh, ko sudah tentu tahu bahawa dalam hidup yang sementara ini segalanya ada nilai nilai yang memberikan kehidupan itu lebih bermakna dan adakalanya kita diduga dengan dugaan yang akan menambahkan nilai hidup kita kepada yang lebih baik dan menjadikan kita lebih bijak membuat keputusan dan nilai itu tidak akan berubah walau apa pun yang terjadi kepada kita hinggalah kita di hadap menerima hisab dari Allah SWT dan di sana nilai itu dipandang mulia.

Ayah menepuk bahu Teguh dan bangun mencapai cangkulnya dan beransur pergi pulang meninggalkan permaidani.

Yang sudah pergi tu, biarlah ia pergi, tegur Ayah lembut kepada Teguh.

Horizon mula jatuh dan dari jauh sayup kedengaran puji pujian terhadap Ar Rahman dan Teguh pun bingkas bangun dan terus berlari mendapatkan Ayah dan mereka pulang menyambut seruan.

Ulasan

Catatan Popular